By : Rahma Ayu Maharani
(Pemerhati anak, Biologi Universitas Negeri Yogyakarta)
Tak harus menunggu punya istri dan berkeluarga...sejak sekarang kita kudu tahu..bagaimana mempersiapkan generasi berkualitas....
Pelajaran
untukku yang pertama
Anak adalah tumpuan harapan orang tua,dalam hati
setiap ayah dan bunda pasti memiliki harapan terhadap anaknya,yang pasti
harapan baik bagi anaknya,yang bisa jadi orientasinya pada msing masing orang tua berbeda,ada yang orientasi
akhirat,dunia maupun keduanya.mendidik anak itu bukan perkara yang mudah butuh
kesabaran dan kecerdasan. Maka, tidak salah pula
bila dikatakan untuk menikah dan kemudian memilki anak itu butuh ilmu syar‘i,
baik pihak istri, terlebih lagi pihak suami sebagai qawwam (pemimpin) bagi
keluarganya. Karena dengan ilmu yang disertai amalan, akan tegak segala urusan
dan akan lurus jalan kehidupan. Namun sangat disayangkan, sisi yang satu ini
sering luput dari persiapan dan sering terabaikan, baik sebelum pernikahan
terlebih lagi pasca pernikahan.oleh karena itu persiapkanlah dengan sebaik
mungkin semampu kita,
Sebagai mana perkataan seorang penyair:
Siapakah menurutku yang
paling berhak dengan pendidikan kaum wanita
Bahwasannya berada
didalam kejelekan sebagai sebab kegagalan
Seorang ibu adalah
madrasah atau sekolan
Apabila engkau
mempersiapkannya
Berarti kau telah siapkan
suatu bangsa yang baik akar dasarnya
Seorang ibu adalah taman
kehidupan andai engkau memperhatikannya
Dengan pemamdangan airnya
yang jernih
Niscaya akan indah
kapanpun dipandang
Seorang ibu merupakan
gurunya para guru
Yang penuh dengan
kenikmatan
Kesibukan jasa ,kemuliaan
mereka akan sepanjang masa dibutuhkam
dan kita memohon kepada Alloh swt semoga mengkaruniakan kepada
kita kabaikan pemeliharaan dan tanggung jawab yang besar yang berada di pundak
orang tua.
Kemudian dalam mendidik anak haruslah menyesuaikan dengan
tingkatan atau fase dan pemahaman seorang anak(dalam buku untukmu Muslimah
kupersembahkan nasehatku dari kitab yang
berjudul asli nasehatiy Lin-nisaa’ yang ditulis oleh ummu ‘Abdillah al
Wadi’iiah ) dalam buku ini dicontohkan:
1.
Fase pertama
:membimbing anak mengucapkan lafazh sambil member isyarat dengan telunjuk ke
langit.
2.
Fase kedua : jika
member sepotong roti atau yang lainnya berikanlah dengan melalui tangan kanan.
3.
Fase ketiga: jika
makanan masih panas jangan engkau meniupnya supaya dingin, karena nabi melarang
bernafas dalam tempat makanan atau minuman.
4.
Fase keempat : ketika
anak telah berumur kurang lebih satu setengah tahun.,bila ingin minum atau
makan bimbinglah untuk mengucapkan bismillah.
5.
Fase kelima : apabila
engkau telah dapati anak sudah bisa mengerti rukun rukun islam dan iman maka
ajarilah dia.
6.
Fase keenam: ajarilah
anak itu tata cara ber wudhu’
7.
Fase ketujuh : apabila
ia makan dari sebuah bejana maka katakana kepadanya ,bahwa hendaklah ia makan
apa yang ada didekatnya.
8.
Fase kedelapan:
biasakanlah ia didalam kebaikan ,ketika umurnya telah menginjak tujuh tahun
,latihlah ia untuk melaksanakan sholat.
9.
Fase kesembilan
:memisahkan tempat tidur anak anak jika telah berumur sepuluh tahun
10.
Fase kesepuluh: latihan
berpuasa jika sudah mampu dengan tujuan bila sudah besar ia terlatih untuk
melakkannya.
11.
Fase kesebelas: ajarilah
anakmu aqidah yang benar.
12.
Fase kedua belas
wasiatkanlah kepada anakmu, seperti luqman member wasiat kepada anaknya.
13.
Fase ketiga belas:
ajarilah untuk meminta ijin terlebih dahulu jika hendak masuk.
14.
Fase keempat
belas:beritahukanlah kepadanya perkara perkara yang dilarang
15.
Fase kelimabelas:jelaskan
padanya ayt atu hadist yang kau bacakan padanya
16.
Fase keenambelas:
ikatkan hatinya pada Allah
17.
Fase ketujuhbelas:
pentingkan dengan hafalan Al Qur’an
18.
Fasekedelapanbelas :
jangan kamu membiarkan anak anakmu bergaul dengan anak anak yang tidak terdidik
atau bodoh
Seorang
anak akan mengingat
Apa yang
diberikan kepadanya
Dan tak
akan lupa
Karena
hatinya seperti permata yang murni
Maka
ukirlah diatas hatinya
Apa yang
kau kehendaki dari berita
Maka
kelak nanti ia akan membawanya
Dari
seluruh apa yang ia hafal
19.
Fase kesembilanbelas:
jangan membiarkan anak keluar rumah ketika sore karena sesungguhnya para
syaithan berkeliaran pada waktu itu dan mungkin bisa membahayakan anakmu.
20.
Fase
keduapuluh:biarkanlah anak itu sekali waktu untuk menyenangkan dirinya karena
jika anak itu selalu dilarang bermain,barangkali akan membuat kecerdasanya
hilang dan anak akan jenuh serta bosan
21.
Fase keduapuluhsatu:bersemangatlah
untuk membiasakan anak anakmu untuk duduk bersama orang orang sholih.
Pelajaran
untukku yang kedua
Bagi
ayah dan bunda,ketika melihat permata hatinya tumbuh begitu lincah dan
menggemaskan,mendengarkan celotehan pertamanya serasa tak ada yang pantas diucapkan selain rasa syukur kepada Rabb seluruh
alam! Betapa bahagia rasanya memandang dan menikmati segala tingkah dan
celotehnya. Bagi orang tua Anak
adalah tumpuan harapan. Segala impian terbaik tertumpah pada dirinya. Bahkan
hampir setiap orang tua menginginkan agar buah hati mereka mendapatkan apa pun
yang lebih baik daripada dirinya, tak peduli harus membanting tulang dan
memeras keringat sepanjang siang dan malam. Anak berbeda dengan orang
dewasa,daya piker dan imajinasinya masih sederhana dan membuat terkadang kita
kesulitan untuk mengajarkan nilai nilai kebaikan yang sifatnya abstrak.namun sesulit
apapun pasti aka ada jalan.
Seorang anak akan tumbuh dan berkembang dan dia tidak akan selamanya
hanya bersama kita,dia akan berada dilingkungan yang luas, dengan lingkungan
pertemananya, lingkungan belajarnya, lingkuangan masyarakat dll.dan tidak selamanya
yang kan ia dapat dari itu semua adalah suatu yang baik,terlebih lagi saat ini
tampak banyak kerusakan yang tersebar, dan kita tidak ada yang berharap anak
kita akan tejatuh turut jatuh dalam kerusakan itu. Bahkan mestinya setiap ayah
dan ibu berharap anak mereka terjauh dari semua itu. Lebih dari itu, mestinya
setiap ayah dan ibu berharap agar buah hati mereka mampu mengubah keburukan
menjadi kebaikan, sesuai kemampuan yang ada pada mereka.
bergaul dengan orang-orang yang baik, dan mengupayakan diri untuk
tetap bersama mereka serta bergaul dengan mereka, walau mereka adalah
orang-orang yang fakir juga merupakan hal yang baik. Karena bergaul bersama
mereka membuahkan faidah yang tidak terhitung banyaknya. Dengan begitu, orang tua wajib mengarahkan anak-anak,
serta menekankan mereka untuk memilih kawan, teman duduk maupun teman dekat
yang baik. Hendaknya orang tua menjelaskan kepada anak tentang manfaat di dunia
dan di akhirat apabila duduk dan bergaul dengan orang-orang shalih, dan bahaya
duduk dengan orang-orang yang suka melakukan kejelekan ataupun teman yang
jelek. (Fiqh Tarbiyatil Abna`, hal. 154)
Dan Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mencari tahu setiap keadaan anak, menanyakan tentang teman-temannya. Betapa banyak terjadi seorang anak yang jelek mengajak teman-temannya untuk berbuat kemungkaran dan kerusakan, serta menghiasi perbuatan jelek dan dosa di hadapan teman-temannya. Padahal anak kecil seringkali meniru, suka menuruti keinginannya serta suka mencari pengalaman baru. Oleh karena itu, orang tua hendaknya berupaya agar anak berteman dengan teman-teman yang baik dan shalih, serta berasal dari keluarga yang baik. Di samping itu juga berupaya untuk memuliakan teman-teman si anak agar mudah memberi bimbingan dan arahan pada mereka dan mereka pun akan bersikap lembut di hadapan orang tua. (Fiqh Tarbiyatil Abna`, hal. 155)
Bila suatu ketika orang tua mendapati anaknya berbuat kejelekan dan kerusakan, tidak mengapa orang tua berusaha mencari tahu tentang keadaan anaknya. Walaupun dengan hal itu mereka terpaksa melakukan salah satu bentuk perbuatan tajassus (mata-mata). Ini tentu saja dengan tujuan mencegah kejelekan dan kerusakan yang terjadi, karena sesungguhnya Allah k tidak menyukai kerusakan. (Fiqh Tarbiyatil Abna`, hal. 156)
Dan Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mencari tahu setiap keadaan anak, menanyakan tentang teman-temannya. Betapa banyak terjadi seorang anak yang jelek mengajak teman-temannya untuk berbuat kemungkaran dan kerusakan, serta menghiasi perbuatan jelek dan dosa di hadapan teman-temannya. Padahal anak kecil seringkali meniru, suka menuruti keinginannya serta suka mencari pengalaman baru. Oleh karena itu, orang tua hendaknya berupaya agar anak berteman dengan teman-teman yang baik dan shalih, serta berasal dari keluarga yang baik. Di samping itu juga berupaya untuk memuliakan teman-teman si anak agar mudah memberi bimbingan dan arahan pada mereka dan mereka pun akan bersikap lembut di hadapan orang tua. (Fiqh Tarbiyatil Abna`, hal. 155)
Bila suatu ketika orang tua mendapati anaknya berbuat kejelekan dan kerusakan, tidak mengapa orang tua berusaha mencari tahu tentang keadaan anaknya. Walaupun dengan hal itu mereka terpaksa melakukan salah satu bentuk perbuatan tajassus (mata-mata). Ini tentu saja dengan tujuan mencegah kejelekan dan kerusakan yang terjadi, karena sesungguhnya Allah k tidak menyukai kerusakan. (Fiqh Tarbiyatil Abna`, hal. 156)
sumber bacaan: untukmu
Muslimah kupersembahkan nasehatku dari
kitab yang berjudul asli nasehatiy Lin-nisaa’ yang ditulis oleh ummu ‘Abdillah
al Wadi’iiah dan asy syariah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar