Rabu, 31 Oktober 2012

Tipe Pembelajar Gelas Terbalik By : Kakek Guru (Dinar Apriyanto)


Nah, di perguruan Metode Belajar Cepat, kali ini, Kakek Guru Dinar ingin menurunkan ilmu tentang tipe pembelajar yang sering muncul di perguruan-perguruan sekolah, kampus atau majelis-majelis taklim. Tipe yang dibahas Kakek Guru Dinar kali ini adalah tipe pembelajar “Gelas Terbalik”.

Siapa tuh kek?..

Tenang...sabar..belajar itu kudu pake sabar...begini nih ceritanya...berdasarkan illustrasi,kita tahu kalau air yang dituangkan dari teko diterima oleh gelas dalam keadaan terbalik. Hmm, tentu air yang dituangkan akan tumpah terus dan tidak dapat masuk ke dalam gelas, ya jelas lah, bagaimana air mau masuk orang posisinya aja terbalik. Nah tipe ini, ibarat seorang yang belajar dengan pikiran yang terbalik , hati juga terbalik ,melihat sesuatu secara negatif. Nah, tipe semacam ini gak bakalan masuk tuh ilmunya.

Dateng ke pengajian eh malah bisik-bisik tetangga kalau ‘peci’-nya pak ustadznya miring. Di kelas pas pelajaran ekonomi, gurunya nerangin macam-macam pasar, eh malah ada yang asyik ngitungin berapa kali si guru bilang “ee..ee”. Di kampus, Pak Dosen sedang serius ngasih kuliah, eh malah, ada mahasiswa yang merhatiin kancing baju dosennya yang nggak dikancingin satu biji...aduh..yang gini nih..ilmunya kagak bisa nyantol...Kakek Guru Dinar saranin nih ye...kalau keseringan kayak gini, mendingan pada perbanyak istighfar deh...soalnye,waktu, tenaga, pikiran kita jadi terbuang percume aje...

Trus apa sarannya dong kek?...

Berdasarkan ilmu di Kitab Sakti Metode Belajar Cepat, Kakek Guru Dinar sudah menuliskan bahwa berpikir, berperasaan dan berperilaku negatif akan menghambat seseorang dalam mendapatkan ilmu terbaik-nya. Maka kita kudu selalu Positif dalam berpikir, berperasaan, dan berperilaku. Ucapan kudu dijaga, jangan terbiasa keluar kata-kata kotor saat kita tersandung batu, atau jatuh. ‘Gue latah kek!’ ah...latah mah bisa disembuhin..ya nggak sob!!

Inget ya, pelajaran hari ini..kita harus selalu POSITIF...

Salam BelajarCEPAT!

Kunjungi tulisan Kakek Guru Dinar yang lain di www.klubmbc.blogspot.com/ www.klubmbc.com

Jumat, 31 Agustus 2012

Perlukah Bahasa Inggris itu? By : Dinar Apriyanto


 

Di kampung halaman, saya punya banyak kenalan orang-orang yang ternyata istimewa. Salah satunya adalah kakak sahabat saya yang sering mengisi ceramah di masjid, beliau sempat mendapatkan beasiswa studi S1 di sebuah negara Adidaya. Saat itu, seusai sholat berjamaah di Mushola kecil dua lantai di kampung saya, beliau duduk bersama kami para pengurus mushola dan kalau posisi duduk sudah seperti ini, alhasil akan terjadi diskusi yang sangat panjang. Maklum, karena beliau termasuk salah satu orang yang pandai dan luas pengetahuannya, ibarat dalang, sering kita ‘tanggap’ beliau untuk menceritakan kisah-kisah menarik semasa beliau kuliah di luar negri. Beliau pernah mengkisahkan kepada saya tentang betapa pentingnya Bahasa Inggris. Begini kisahnya...

Ketika ditanya “Perlukah Bahasa Inggris itu? Sebagian besar di antara anda akan menjawab, “Ya!!!” (Walaupun mungkin juga, ada yang masih ragu). Globalisasi, bahasa internasional, kompetisi, ... apa lagi? Ampun... Tapi bagaimana jika anda diminta untuk memberikan alasannya dengan menggunakan bahasa yang tidak klise? Nah, itulah yang dialami kakak sahabat saya itu beberapa tahun yang lalu. Kisah nyata. Benar-benar pernah terjadi.

Sewaktu masih bermukim di Amerika Serikat, saya nge-fans berat sama seorang penceramah asal New York. Buat orang-orang Islam di Amerika, penceramah ini sama tenarnya dengan Aa’ Gym di Indonesia beberapa waktu yang lalu. Beliau bernama Imam Siraj Wahhaj. Orang Amerika asli. Beliau adalah imam Masjid Taqwa di daerah Brooklyn, New York City. Ceramah-ceramahnya tidak akan bikin orang sempat ngantuk. Sentilan-sentilannya akan menambah semangat untuk menyebarkan kebahagiaan menjadi hamba Allah yang muslim.

Suatu saat, terdengar kabar bahwa Brother Imam Siraj akan memberikan ceramah di Nashville. Buat kami, sekelompok mahasiswa fans Siraj Wahhaj, hal ini merupakan kesempatan untuk mendengarkan, melihat, dan mengalami langsung ceramah dari Sang Imam. Nashville hanyalah berjarak tiga jam perjalanan naik mobil dari tempat kami tinggal. Oh, well, tiga jam itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kalau kita harus melakukan perjalanan ke New York selama 12 jam!

Singkat cerita, kami sudah berada di aula Vanderbilt University di Nashville. Imam Siraj diundang berceramah oleh masyarakat muslim setempat dalam rangka pengumpulan dana (fundraising) untuk mendirikan sekolah Islam pertama di sana.

Mulailah Imam Siraj berbicara, dan di tengah-tengah ceramahnya beliau bertanya kepada para hadirin, “Who’s not for this project?” Semuanya diam. Menurut tafsiran saya, arti dari pertanyaan itu adalah, “Siapa yang tidak ikut terlibat dalam proyek (pembangunan sekolah) ini?” Sebagai orang dari luar kota Nashville, tentu saja saya tidak terlibat. Saya pun spontan mengangkat tangan. Sendirian. Semua orang melihat ke arah saya. Sang Imam pun melirik. Beliau melihat saya sebentar, kemudian ceramah pun dilanjutkan. Beliau berkata, “Of course, nobody is against this project.

Deg! Laa haula wa laa quwwata illa billah. Barulah saya sadar, penafsiran saya yang berdasarkan atas bahasa Inggris yang cekak tadi ternyata salah total. Maksud dari pertanyaan dari sang Imam tadi adalah, “Siapa yang menentang proyek ini?” Dan gara-gara salah pengertian, saya langsung angkat tangan. Pantas saja, teman-teman saya tadi pada bergaya tidak kenal saya. Ya ampun, masa saya tega sih menentang proyek yang mulia seperti ini. Astaghfirullahal-azhiim.

Tapi untungnya orang-orang Islam di Nashville pada baik-baik. Sang Imam pun mengerti. Pada waktu saya menyalami Imam Siraj Wahhaj, setelah ceramah selesai, beliau tersenyum. Tampaknya beliau maklum, kalau orang yang menyalaminya ini bahasa Inggrisnya pas-pasan. (Oh, man!) Setelah ceramah selesai, kami pun dipersilakan untuk makan bersama. Panitia yang mempersilakan kami bertanya, “Where are you from, brother?” dengan ramah dan mengajak saya bercakap-cakap dengan pelan-pelan. Memastikan bahwa tidak akan terjadi lagi salah tafsir. (Hehe…)

Sekarang, buat anda yang masih ragu, silakan jawab pertanyaan ini. Perlukah Bahasa Inggris itu?

Ha..ha..Trimakasih Mas Arief S. Adhi yang telah menceritakan kisah ini pada kami....dan sekarang kami tahu pentingnya belajar Bahasa Inggris..pun pentingnya belajar Bahasa Arab juga pastinya, biar tidak tersesat pas saat kita nanti Naik Haji..amiin...


Kunjungi tulisan saya yang lain di www.klubmbc.com atau di www.klubmbc.blogspot.com