Tahun 2002 saya beserta teman-teman komunitas pelajar SMA,
mengadakan sebuah penelitian tentang salah satu kehidupan pelajar, yaitu
tentang mencontek. Penelitian itu digawangi oleh seorang Manajer sebuah
Bank Syariah ternama yang begitu peduli dengan pendidikan. Jika bicara
hari ini, mungkin para pelajar sudah mulai tumbuh pesat
penelitian-penelitian pelajar. Namun zaman saya masih duduk di bangku
SMA, belum terlalu banyak, bahkan cenderung sedikit sekali penelitian
yang bisa dikatakan mendekati ilmiah. Maka, saat melakukan penelitian
itu, saya begitu bersemangat, apalagi 10 orang teman SMA yang lainpun
juga tidak kalah semangatnya. Namun, ibarat mengharapkan sebuah hasil
panen yang baik, seorang petani-pun harus bersusah payah selama beberapa
bulan. Pun demikian yang kami temui dalam penelitian ini. Dengan metode
kuesionaire yang disebar selama beberapa minggu, hasilnya ternyata
tidak seperti yang diharapkan. Kurang dari separo kuesionaire yang kami
sebarkan tak kembali lagi ke tangan kami para peneliti pemula.
Rasanya
mau menyerah saja!, eit, namun tunggu, kami tidak selemah itu. Diskusi
panjang lebarpun dilakukan, hari itu, kami sepakat untuk melakukan
inspeksi mendadak ke kelas-kelas untuk mengambil kembali kuesionaire
yang tidak kembali ke tangan kami. Hampir semua kelas kami Inspeksi,
beberapa teman yang enggan menjawab dan ogah-ogahan, kami datangi
satu-satu dan juga kami tunggu hingga ia selesai mengisi kuesionaire.
Dengan cara ini, jumlah kuesionaire yang terkumpulpun bertambah, hingga
karena kami mengejar target jumlah kuesionaire yang kembali sekitar 80
%, teman-teman sampai rela mengecek satu demi satu tong sampah yang
barangkali berisi kuesionaire yang terbuang. Ternyata memang benar,
banyak kuesionaire terisi yang sudah masuk di tong sampah.
Alhamdulillah, selama kurang lebih satu pekan, kuesionaire, sudah
berhasil 80% kami kumpulkan kembali.
Kini saatnya kami dan tim
melakukan penghitungan dan analisis hasil. Tak semua tim di tahap ini
bertahan, karena penelitian ini adalah penelitian Epos (Energi Positif,
meminjam istilahnya Pak Jamil), maka tak ada upah sedikitpun buat kami.
Alhasil hanya orang-orang yang memiliki visi dan semangat tinggi yang
tetap bertahan. Selama kurang lebih tiga bulan penelitian,
Alhamdulillah, atas ijin Alloh, hasilnya membuat kami sedikit bernafas
lega. Lega karena kerja penelitian telah selesai, namun kami cukup
mengelus dada dengan hasil yang kami peroleh dalam penelitian itu.
Sekitar seratus lebih, siswa SMA yang menjadi objek penelitian kami,
memberikan gambaran mengenai aktivitas mencontek yang dilakukan di
sekolah. Point penting dalam penelitian ini adalah 97 % Siswa, ternyata
pernah MENCONTEK. Sembilan puluh tujuh persen, bukan angka yang kecil
ketika ternyata rata-rata siswa pernah melakukan praktek kecurangan yang
mereka lakukan secara sadar, atas kendali pikiran sadar mereka. Praktek
kecurangan meskipun mungkin dianggap sepele, namun sebenarnya membawa
dampak yang cukup besar.
Pages
- Beranda
- Tentang Kami
- Program Training
- Testimoni
- Kerjasama Instansi
- Program CSR Perusahaan
- Konsultasi Kesehatan Remaja
- Konsultasi Anak
- Konsultasi Wirausaha Muda
- Program Outbound
- Konsultasi Psikologi Remaja
- Konsultasi Aktivis Remaja
- Konsultasi Kemuslimahan Remaja
- Konsultasi Belajar
- Konsultasi Seni Remaja
- Kontak Kami
- Galeri Foto
Selasa, 30 April 2013
Kamis, 07 Maret 2013
"Lampu" anda meredup By: @DinarApriyanto
Aktivitas kehidupan manusia tak lepas dari Interaksi.Baik itu aktivitas kerja,menuntut ilmu,apalagi bisnis...bukankah begitu?! Tak jarang interaksi menimbulkan pengaruh baik,seperti mendapatkan nasehat, pengalaman berharga, dapat pekerjaan, atau juga dapat mitra bisnis.
Well,ada juga orang yg dgn interaksi justru kadang menarik energi negatif dari dlm dirinya. Tak jarang saya mendapatkan bertubi-tubi pertanyaan mengenai energi negatif interaksi manusia. Ada seorg karyawan yg mendadak kehilangan kepercayaan diri krn kedatangan karyawan baru yg 'lebih' hebat darinya.Ada juga seorang kepala sekolah swasta yg di'hantui' rasa minder krn bermunculan sekolah-sekolah yg lebih modern dilingkungannya.Seorg mahasiswa juga pernah bercerita mengenai ketidakberaniannya menempuh studi S1 krn merasa 'kalah' secara akademis dibanding kawan-kawannya.Hingga energi negatif ini juga menghantui bbrp curhat-an para bisnismen pemula yg merasa tdk pantas menawarkan 'sesuatu' ke calon pembeli yg tinggi secara strata sosialnya.
Wait for a minute.Ada apa dengan kita sih, mendadak 'lampu' kita redup saat bertemu dgn org lain yg kita anggap 'lampu'nya lebih terang benderang. Padahal jika keyakinan kita benar dan lurus, tak seharusnya hal ini terjadi. Merasa kemampuan kita kurang dibanding org lain bisa mengikis kemampuan dan ide kreativitas kita bila ditanggapi sbg energi negatif. Namun sebaliknya,akan meng-hebatkan kita jika disadari sbg sebuah 'lecutan' agar kita semakin banyak belajar dan berusaha.
So, hargailah diri kita.Sang Maha Pencipta telah mengkaruniakan semua potensi utk kita jadikan kekuatan dlm diri kita. Ubah fokus hidup kita utk selalu mengasah kelebihan,sehingga kelemahan diri terasa begitu kecil dan tak meredupkan 'lampu' dan energi semangat kita.
Yuk ngobrol :@DinarApriyanto
Langganan:
Komentar (Atom)

